All posts by massfm

LITERASI MEDIA DAN LITERASI DIGITAL

PENGERTIAN LITERASI

2
https://massfm.files.wordpress.com/2017/05/506f2-100districts.jpg

Literasi menurut National Institute for Literacy adalah Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Di lain sisi, Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

LITERASI MEDIA

3

Melek media adalah satu set perspektif yang aktif kita gunakan untuk membuka diri kepada media untuk menafsirkan makna pesan yang kita hadapi. Kita membangun perspektif kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan kita, kita perlu alat dan bahan baku. Alat-alat adalah keterampilan kita. bahan baku adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. Aktif menggunakan berarti bahwa kita sadar akan pesan dan berinteraksi dengan mereka. Selain itu, menurut Livingstone (2003), literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk medium (Herlina,2012).

Di Amerika Serikat, John Culkin, SJ adalah  orang yang menemukan Literasi Media.salah satu pendidik pertama di A.S. untuk memulai media eksplisit. Pada tahun 1930, FR Leavis dan Denys Thompson menerbitkan Instruksi manual untuk pengajaran tentang media massa di sekolah yaitu “Budaya dan lingkungan: pelatihan kesadaran kritis”. Sedangkan di Indonesia, diinisiasi oleh beberapa Organisasi Nirlaba: Rumah Sinema (2004), Yayasan Pengembangan Media Anak (2005), Remotivi (2010) yang bergerak dalam bentuk program pemberdayaan Komunitas, konferensi, publikasi, workshop.”

Tujuan dari Literasi Media itu sendiri adalah dalam  media literacy  terdapat pengetahuan tentang bagaimana media bekerja, bagaimana media membangun makna-makna sosial dan bagaimana media berfungsi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tujuannya untuk mendidik masyarakat agar mampu menggunakan media secara cerdas dan kritis. Seorang yang melek media kemudian menjadi seseorang yang mampu untuk membaca, memahami, mengevaluasi, menyeleksi dan mengkritik isi dari pesan-pesan media.

LITERASI DIGITAL

4.png
http://bukuonlinestore.com/wp-content/uploads/2016/11/literasi-digital.jpg

Literasi digital merupakan suatu konsep yang menjelaskan mengenai konsep literasi di era digital. Menurut Gilster dalam Jurnal Literasi Digital Remaja di Kota Surabaya, literasi digital adalah kemampuan untuk memahami serta menggunakan informasi dari berbagai format. Namun, bukan hanya kemampuan untuk membaca saja melainkan dapat mengerti makna yang terkandung di dalamnya.

Istilah literasi digital pernah digunakan tahun 1980 an,(Davis & Shaw, 2011), secara umum bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti membaca non-sekuensial atau nonurutan berbantuan komputer (Bawden, 2001). Istilah literasi digital mulai popular sekitar tahun 2005 (Davis & Shaw, 2011) Literasi digital bermakna kemampuan untul berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti bacaan tak berurut berbantuan komputer. Gilster (2007) kemudian memperluas konsep literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital.; dengan kata lain kemampuan untuk membaca, menulis dan berhubungan dengan informasi dengan menggunakan teknologi dan format yang ada pada masanya. Penulis lain menggunakan istilah literasi digital untuk menunjukkan konsep yang luas yang menautkan bersama-sama berbagai literasi yang relevan serta literasi berbasis kompetensi dan ketrampilan teknologi komunikasi, namun menekankan pada kemampuan evaluasi informasi yang lebih “lunak” dan perangkaian pengetahuan bersama-sama pemahaman dan sikap (Bawden, 2008; Martin, 2006, 2008) . Literasi digital mencakup pemahaman tentang Web dan mesin pencari. Pemakai memahami bahwa tidak semuainformasi yang tersedia di Web memiliki kualitas yang sama; dengan demikian pemakai lambat laun dapat mengenali situs Web mana yang andal serta situs mana yang tidak dapat dipercayai. Dalam literasi digital ini pemakai dapat memilih mesin pemakai yang baik untuk kebutuhan informasinya, 9 mampu menggunakan mesin pencara secara efektif misalnya dengan “advanced search”.

 

DAMPAK LITERASI MEDIA DAN DIGITAL:

 

5
http://www.uplek.com/wp-content/uploads/2016/01/social

 

  • DAMPAK POSITIF:
  1. Menghemat waktu: Seorang pelajar atau mahasiswa yang mendapatkan tugas dari guru atau dosennya, maka ia akan mengetahui sumber-sumber informasi terpercaya yang dapat dijadikan referensi untuk keperluan tugasnya. Waktu akan lebih berharga karena dalam usaha pencarian dan menemukan informasi itu menjadi lebih mudah.
  2. Belajar lebih cepat: Pada kasus ini misalnya seorang pelajar yang harus mencari definisi atau istilah kata-kata penting misalnya di glosarium. Dibandingkan dengan mencari referensi yang berbentuk cetak, maka akan lebih cepat dengan memanfaatkan sebuah aplikasi khusus glosarium yang berisi istilah-istilah penting.
  3. Menghemat uang: Saat ini banyak aplikasi khusus yang berisi tentang perbandingan diskon sebuah produk. Bagi seseorang yang bisa memanfaatkan aplikasi tersebut, maka ini bisa menghemat pengeluaran ketika akan melakukan pembelian online di internet.
  4. Membuat lebih aman: Sumber informasi yang tersedia dan bernilai di internet jumlahnya sangat banyak. Ini bisa menjadi referensi ketika mengetahui dengan tepat sesuai kebutuhannya. Sebagai contoh ketika seseorang akan pergi ke luar negeri, maka akan merasa aman apabila membaca berbagai macam informasi khusus tentang negara yang akan dikunjungi itu.
  5. Selalu memperoleh informasi terkini: Kehadiran aplikasi terpercaya akan membuat seseorang akan selalu memperoleh informasi baru.
  6. Selalu terhubung: Mampu menggunakan beberapa aplikasi yang dikhususkan untuk proses komunikasi, maka akan membuat orang akan selalu terhubung. Dalam hal-hal yang bersifat penting dan mendesak, maka ini akan memberikan manfaat tersendiri.
  7. Membuat keputusan yang lebih baik: Literasi digital membuat indvidu dapat membuat keputusan yang lebih baik karena ia memungkinkan mampu untuk mencari informasi, mempelajari, menganalisis dan membandingkannya kapan saja. Jika Individu mampu membuat keputusan hingga bertindak, maka sebenarnya ia telah memperoleh informasi yang bernilai.
  8. Dapat membuat anda bekerja: Kebanyakan pekerjaan saat ini membutuhkan beberapa bentuk keterampilan komputer. Dengan literasi digital, maka ini dapat membantu pekerjaan sehari-hari terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan komputer misalnya penggunaan Microsoft Word, Power Point atau bahkan aplikasi manajemen dokumen ilmiah seperti Mendelay dan Zetero.
  9. Membuat lebih bahagia: Dalam pandangan Brian Wright, di internet banyak sekali berisi konten-konten seperti gambar atau video yang bersifat menghibur. Oleh karenanya, dengan mengaksesnya bisa berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang.
  10. Mempengaruhi dunia: Di internet tersedia tulisan-tulisan yang dapat mempengaruhi pemikiran para pembacanya. Dengan penyebaran tulisan melalui media yang tepat akan memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan perubahan dinamika kehidupan sosial. Dalam lingkup yang lebih makro, sumbangsih pemikiran seseorang yang tersebar melalui internet itu merupakan bentuk manifestasi yang dapat mempengaruhi kehidupan dunia yang lebih baik pada masa yang akan datang.

 

  • DAMPAK NEGATIF:

Untitled1

  1. Literasi digital berdampak pada pustakawan: Pustakawan harus menguasai literasi informasi serta literasi lainnya sehingga memungkinkan pustakawan mengembangkan kegiatan literasi informasi di lingkungannya. Pengetahuan latar belakang juga menimbulkan masalah pada pendidikan pustakawan.
  2. Tidak mampu membedakan informasi: Ketika orang mempunyai tingkat literasi digital yang rendah, orang tersebut tidak dapat membedakan mana informasi yang kredibel mana yang tidak.
  3. Adanya perubahan sosial yang cenderung lebih mengarah pada individualisme: Masyarakat jaman sekarang cenderung lebih aktif pada media sosial daripada berinteraksi langsung.
  4. Mulai terjadi pendegradasian (pengikisan) terhadap nilai – nilai warisan budaya: Adanya pengaruh globalisasi membuat masyarakat lebih menyukai budaya baru yang muncul daripada warisan Indonesia.
  5. Adanya kebebasan tanpa batas: Terjadi kesulitan dalam melakukan kontrol terhadap pola perkembangan anak.
  6. Memungkinkan terjadinya plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain: Luasnya informasi diinternet membuat orang ketika mengerjakan tugas enggan untuk berfikir dan memilih untuk copy paste yang sudah ada diblog sehingga dianggap melakukan plagiarism.
  7. Memungkinkan terjadinya suatu tindakan kriminal dengan inovasi modus yang berbeda: Kurangnya ekonomi dan tingkat pengangguran di Indonesia membuat orang akan melakukan kejahatan berupa penipuan.
  8. Mudah mempercayai berita hoax: kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang literasi digital membuat seseorang dengan gampang menelan mentah-mentah berita yang sumber dan kebenarannya masih dipertanyakan.

 

Penerapan Digital Literasi

  1. Di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, literasi digital telah dimasukkan ke dalam pembelajaran dan dihubungkan dengan literasi digital, maka kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan melalui internet (blog, web, dan media sosial).Screen Shot 2017-06-01 at 12.30.22 AM.png
  2. Di masyarakat kegiatan literasi digital seperti renungan di lingkungan pada saat bulan kitab suci. Masyarakat dapat menggunakan alkitab online apabila tidak membawa buku alkitab.

holybibleapp-1.jpg

 

STUDI KASUS

Pada zaman sekarang ini, sebagian masyarakat sudah mulai melek dengan media dan digital. Namun, karena kurangnya pengetahuan terhadap literasi media dan digital, menyebabkan masyarakat cemderung memanfaatkan pengetahuan yang ia miliki ke hal-hal yang bersifat negatif. Apabila ada sebuah berita yang belum diketahui sumbernya dengan jelas, mereka tidak berusaha mencari kebenaran berita tersebut tetapi justru masyarakat menelannya dengan mentah-mentah dan menyebarkanluaskan berita tersebut. Seperti yang banyak beredar di internet sekarang mengenai kasus Ahok, banyak oknum yang tidak bertanggung jawab, menyebarkan berita-berita hoax, dan membuat berita tersebut menjadi terlihat benar.

_92223391_aganharahap.jpg

Foto Habib Rizieq yang berjabat tangan dengan Ahok ini adalah foto editan yang diolah oleh seorang ‘seniman Photoshop’ bernama Agan Harahap yang memang dikenal dengan editan-editan foto tokoh terkenal dari aktris Angelina Jolie, Kim Kardashian, hingga petinju terkenal Filipina Manny Pacquiao.

Dia mengunggah foto editan itu dalam akun Facebook-nya dan mendatangkan reaksi yang beragam. Orang-orang yang rajin mengikuti karyanya langsung mengerti bahwa itu adalah editan yang disengaja. “Damai dunia,” kata satu pengguna. Tapi ada juga yang menganggapnya sangat serius. “Berhentilah hasut dan fitnah. Tambah ngerusak bangsa,” kata yang lain. (bbc.com)

DAFTAR PUSTAKA

Advertisements

media dan budaya serta representasinya

MEDIA DAN BUDAYA

Pengertian Media menurut Para Ahli

  1. Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2002)

Mengatakan bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut Gerlach dan Ely, media disini dapat diartikan sebagai guru, siswa, teman sebaya, lingkungan sekolah dan lingkungan luar sekolah.

  1. Menurut Association of Education andCommunication Technology (AECT)

Mengatakan bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk penyampaian pesan dan informasi.

Pengertian Media Massa

Kata “MEDIA” berlaku pada produk-produk informasi dan hiburan dari industri-industri media, begitu pula dengan contoh-contoh telekomunikasi yang membantu media dalam menyampaikan produknya kepada kita.
Konsep Kunci dalam Kajian Media

Beberapa konsep-konsep kunci dalam kajian media yakni:

  1. Ideologi
    Cara-cara berbagai aspek media berkontribusi terhadap kelangsungan berbagai kepercayaan dan nilai tanpa dipertanyakan.
  2. Bentuk
    Konstruksi yang membentuk dan mendistorsi makna-makna sosial yang dimunculkan oleh produk media
  3. Narasi
    Narasi dapat membentuk makna
  4. Teks
    Teks dapat atau tidak dapat dibaca dengan cara yang berbeda oleh para audiens yang berbeda.
  5. Genre
    Berbagai kategori repetitif yang juga dapat mengulagi berbagai mana sosial dan paraktik-praktik sosial
  6. Representasi
    Seberapa jauh representasi sebuah media tersebut negatif atau positif
  7. Audiens
    Persepsi audiens terhadap elompok sosialnya mempengaruhi preferensinya terhadap materi yang ditargetkan kepadanya.
  8. Efek
    Para audiens aktif atau pasif dalam memahami media
  9. Institusi
    Institusi jasa yang dapat mensuplai materi untuk berbagai layanan berita

Pengertian Budaya Populer

Didefinisikan oleh kepercayaan dan nilai, dan oleh pemahaman terhadap sejarah, dan terhadap keberbedaan yang semua hal tersebut dimiliki oleh kelompok sosial tertentu.

Konsep Kunci dalam Budaya Populer

  1. Pemahaman tentang perbedaan dan identitas
    Identitas dapat berada pada citra merk yang dikonstruksikan untuk suatu produk serta dalam citra kelompok yang dikonstruksi oleh penggunaan produk tersebut eleh mereka.
  2. Bagaimana identitas direpresentasikan
    Cara-cara media memberikan makna terhadap kelompok-kelompok budaya, merekonstruksi identitasnya dan mengenakan berbagai makna kepada produk-produk yang dikenakan.
  3. Bagaimana budaya diproduksi
    Dalam era produksi massa, budaya merupakan benda yang dimanufacturkan (diproduksi).
  4. Cara hubungan sosial dan hubungan budaya disamakan dengan barang-barang
    Produk-produk budaya adalah komoditas. Budaya populer penuh dengan komoditas yang di-fetisisme-kan dan terletak pada nilai dan kualitas yang dikenakan terhadap produk-produk tersebut.
  5. Bagaimana makna tentang perbudakan diproduksi dalam teks
    Para konsumen (audiens) memilih untuk mengunjungi atau tidak mengunjungi, membeli atau tidak membeli. Mereka tidak dapat memulai produksi dan persediaan, menyensor ataupun mengontrol sumber.
  6. Bagaimana ideologi beroperasi dalam praktik dan barang kebudayaan
    Pemasaran dan promosi berbagai produk kebudayaan dapat dilihat sebagai suatu promosi ideologi.

Teori Kunci dalam Budaya Populer

  1. Marxisme
    Menaruh perhatian terhadap penerapan kekuasaan melalui institusi-institusi budaya. Marxis klasik berpandangan bahwa institusi-institusi kebudayaan digunakan oleh kaum elit untuk melegitimasi kekauasaannya, sedangkan Neo Marxis berpandangan bahwa massa adalah penerima dan resipien pasif dari budaya yang diproduksi secara massal.
  2. Modernisme
    Menaruh perhatian dengan pemikiran ulang terhadap bentuk dan struktur tetapi ingin mempertahankan nilai-nilai seni tinggi yang terlepas dari budaya populer.
    Walter Benjamin (1936) mengemukakan tentang produksi citra secara kultural, kemampuan untuk mengkomunikasikan bukti dari dunia dan versi-versi dunia telah menghasilkan pengetahuan, meskipun beberapa orang mengungkapkan ketidakpahamannya
  3. Interaksionalisme
    Tertarik kepada orang-orang serta institusi , dan kepada bagaimana interaksi itu membantu memahami budaya populer. Max Weber mengungkapkan bahwa tindakan seseorang merupakan bagian dari perilaku kebudayaan yang dapat digunakan untuk memahami praktik-praktik sosial.
  4. Fungsionalisme
    Melihat media berkontribusi tehadap tendensi institusi institusi sosial untuk mencari keadilan yang seimbang (tidak selalu berkaitan dengan kekuasaan).
    Emille Durkheim mengemukakan bahwa proses-proses sosial akan bergerak untuk memperbaiki ketidakseibangan dan memulihkan tatanan melalui adaptasi dan perubahan.
  5. Strukturalisme
    Membaca struktur dan maknanya dalam perilaku budaya dan artifak.
    Claude Levi-Strauss (1963) secara khusus mendeduksi struktur-struktur oposisional dalam materi budaya, sebagaimana budaya membuat makna-makna itu juga berkaitan secara layak dengan wacana-wacana.
  6. Posmodernisme
    Menolak struktur dan mengabaikan ideologi demi teks, bentuk dan makna, semua dalam pandangan yang positif tentang kekuasaan budaya populer. David Morley (1996) menolak solusi-solusi total, teologi, serta idealisme dan utopia. Michel Foucauld berargumen bahwa semua ide dibingkai oleh wacana-wacana dan cara pikir tentang subjek yang ada, wacana terpisah dari ideologi.
  7. Feminisme
    Melihat budaya populer secara esensial berkaitan erat dengan makna tentang gender dan ketidaksetaraan. Laura Mulvey (1975) berargumen bahwa metode penceritaan (storytelling) film diorganisasikan agar memungkinkan pria untuk melihat wanita agar mendapatkan kesenangan, tetapi tidak sebaliknya.

Hubungan Media dan Budaya

Media dan budaya merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Budaya dalam hal ini dapat diartikan sebagai hasil dari media. Selain itu dalam hubungan antara media dan budaya, juga bisa diartikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sebuah kelompok yang diwariskan dari generasi yang satu ke generasi yang lain.

PENGERTIAN REPRESENTASI

Representasi menunjuk baik pada proses maupun dari produk pemaknaan suatu tanda. Representasi sendiri adalah suatu proses perubahan konsep – konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk yang kongkrit. Representasi juga mempunyai beberapa pengertian diantaranya adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia : dialog, tulisan, video, fotografi, film dan sebagainya.

Pengertian Representasi menurut Stuart Hall

Menurut Stuart Hall, proses produksi dan pertukaran makna antara manusia atau antar budaya yang menggunakan gambar, simbol dan bahasa adalah di sebut REPRESENTASI. Media paling sering digunakan dalam produksi dan pertukaran makna adalah bahasa melalui pengalaman-pengalaman yang ada dalam masyarakat. Stuart Hall (1997), dalam culture study menggambarkan bahwa bahasa melukiskan relasi encoding dan decoding melalui metafora produksi dan konsumsi. Proses produksi meliputi proses gagasan, makna, ideology dan kode social, ilmu pengetahuan, ketrampilan teknis, ideology professional, pengetahuan institusional, defenisi dan berbagai asumsi lainnya seperti moral, cultural, ekonomis, politis dan spiritual.

Pandangan Stuart Hall mengenai Representasi

Stuart Hall menganggap bahwa “ada yang salah” dengan representasi kelompok minoritas dalam media, bahkan ia meyakini bahwa imaji-imaji yang dimunculkan oleh media semakin memburuk. Hall mengamati bahwa media cenderung sensitif pada gaya hidup kelas menengah keatas, mayoritas masyrakat yang sudah teratur, sementara orang kulit hitam digambarkan sebagai “kelompok luar”, “diluar konsensus”, “relatif tidak terorganisir”, “kelas pekerja”. Lebih lanjut, media semakin mengagungkan institusi masyarakat, dimana masyarakat kulit hitam bermasalah dalam area kekuasaan sensitif itu; pekerjaan, diskriminasi publik, perumahan, legalisasi parlemen,pemerintahan lokal, hukum dan polisi.

SEKS, GENDER, DAN SEKSUALITAS

Seks

Mengacu pada jenis kelamin, bersifat biologis.

Gender

Perbedaan sifat, peran, dan posisi antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial dan dipengaruhi oleh sistem kepercayaan, agama, budaya, sosial, etnis, politik, hukum, dan lain-lain, yang bisa berubah sesuai dengan konteks waktu.

  • Bias Gender adalah pembagian posisi dan peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan.
  • Sensitif gender adalah suatu sikap yang mendukung kesetaraan gender.

Seksualitas

Aspek kehidupan yang menyeluruh mencakup seks, gender, orientasi seksual, erotisme, kesenangan, keintiman, dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan atau nilai-nilai, tingkah laku, kebiasaan, peran, dan hubungan.

 

GENDER DAN MEDIA

Wanita lebih sering menjadi alat untuk menarik konsumen dalam media. Wanita sering dihubungkan dengan sex. Contohnya adalah dalam iklan mobil yang mana laki-laki sering digambarkan piawai dalam mengemudikan mobil, sedangkan wanita sering muncul dalam pakaian yang sexy yang tergila-gila dengan laki-laki yang piawai dalam mengemudikan mobil tersebut. Namun, saat ini media mulai menyetarakan representasi wanita dan laki-laki. Contohnya sekarang laki-laki juga mulai banyak bermunculan dalam iklan bumbu dapur.

REPRESENTASI PEREMPUAN DI DALAM MEDIA

Perempuan

Jumlah penduduk Indonesia menurut sensus penduduk nasional 2010 adalah 237,6 juta jiwa di mana 49,7% di antaranya adalah perempuan. Meskipun jumlahnya hamper mencapai setengah dari jumlah keseluruhan pennduduk Indonesia, ruang perempuan sedikit karena Indonesia memiliki budaya patriarki. Masalah yang umumnya dialami kaum hawa meliputu kemiskinan, pendidikan, kekerasan dalam rumah tangga, dan stereotipisasi. Media sesungguhnya didesak untuk menyuarakan hak perempuan, namun media malah mengeksploitasi perempuan demi kepentingannya yang menyebabkan timbuk prasangka dan diskriminatif terhadap perempuan.

Perempuan dan Media

Menurut peneltian yang dilakukan di pedalaman kepulauan Serawai, dihasilkan informasi bahwa perempuan tidak cakap dalam menggunakan media. Media sendiri juga tidak mengekspos isu-isu yang menyangkut perempuan karena perempuan bukanlah aspek penting bagi peliputan media. Perempuan dirugikan akibat buruknya infrastruktur media dan menghambat status mereka sebagai warga negara.

Perempuan dalam Media

Jumlah perempuan yang bekerja dalam bidang media terbilang sedikit. Munculnya perempuan di dalam media juga bukan sebagai pemeran aktif melainkan sebagai obyek, baik itu obyek berita kriminal, korban bencana, atau bahkan hanya sebagai komoditas saja. Belakangan ini memang jumlah perempuan yang bekerja di bidang media bertambah. Namun hal ini bukan disebabkan oleh pengakuan keberadaan perempua, melainkan perempuan dipandang memiliki daya jual sehingga memudahkan pertemuan dengan narasumber.

Stereotipisasi terhadap Perempuan: Peran Media

Tanggung  jawab media dalam mendidik dan memberadabkan masyarakat tidak lagi menjadi fokus utama para awak media, tetapi sensasional dan rating menjadi fokus kebanyakan media. Media mementingkan laba melalui acara-acara yang sensasional dan perempuan dijadikan sebagai “alat” untuk mencapai tujuan sensasional ini.

Perempuan yang Lemah di dalam Media

Perempuan menjadi korban dalam media demi strategi pemasaran media yang menyebabkan hak perempuan sebagai warga negara dilanggar. Penggambaran perempuan di media mengirimkan pesan-pesan penting pada publik mengenai tempat dan peran perempuan di masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya media dalam media perempuan dalam tiap aspek. Seharusnya media tutut ambil bagian dalam upaya pemberdayaan  dan menampilkan kelompok perempuan dengan cara terhormat.

Melindungi Perempuan: Pentingnya Peran Media

Media memiliki pengaruh yang besar dalam menyampaikan pesar ke public mengenai peran dan posisi perempuan di masyarakat. Media memiliki tanggung jawab untuk membangun masyarakat dalam prinsip transparansi, keberagaman, dan solidaritas benar-benar ada. Namun, media telah mengabaikan hak perempuan di ranah publik, sehingga data dikatakan media gagal mmenuhi tanggung jawabnya yang sesungguhnya.

 

REPRESENTASI LGBT DI DALAM MEDIA

LGBT di Indonesia: Sejarah dan Latar Belakang

Gerakan LGBT di Indonesia dimulai pada awal 1980-an ketika sejumlah aktivis LGBT mulai menyuarakan eksistensi LGBT di Indonesia. Salah satu dari antaranya adalah Lambda Indonesia dan GAYa NUSANTARA. Organisasi-organisasi ini berfokus pada jejaring sosial antar-LGBT. Meskipun begitu, gerakan yang terbentuk masih individual dan belum terorganisir secara baik. Organisasi ini berkembang pada tahun 1990, seiring dengan meningkatnya keprihatinan terhadap HIV/AIDS  dan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Organisasi tersebut masih mengambil isu umum seperti kesehatan dan mitigasi HIV/AIDS, tapi masih belum sampai isu HAM. Mayoritas LGBT masih belum berpartisipasi secara aktif dalam kelompok-kelompok umum karena mereka masih hidup menutup diri dan takut untuk mengekspresikan diri.

Hal ini disebabkan, karena sebagian besar dari masyarakat yang masih enggan untuk menerima kelompok LGBT. Bisa dilihat bahwa masyarakat Indonesia memiliki dasar moral, kebudayaan dan keyakinan beragama. Tidak heran jika kelompok LGBT menjadi sasaran berbagai kelompok fundamentalis agama, karena dianggap “tidak bermoral” dan “kontradiktif bagi moral bangsa”, kelompok LGBT semakin rentan untuk menerima serangan, intimidasi, maupun penganiayaan. Dapat dikaitkan juga dengan adat ketimuran yang dianut oleh masyarkat Indonesia yang barangkali menjadi faktor perlakuan terhadap LGBT. Di lain sisi, hal ini diterima oleh masyarakat modern yang menghargai keunikan pilihan-pilihan manusia. Di sini, kita dapat melihat tegangan yang mengemuka antara yang disebut sebagai “universalitas” nilai-nilai dalam masyarakat modern dan “partikularitas” dari nilai-nilai timur. Dalam konteks Indonesia, keduanya tidak selalu sejalan.

LGBT dan Media

Sebagian orang meyakini bahwa akses terhadap media yang layak merupakan prasyarat bagi demokrasi dan pembangunan (Samassekou 2006, Jorgensen 2006, Greenstein and Esterhuysen 2006). Akses yang layak terhadap media memampukan masyarakat dalam merengkuh cara-cara tertentu untuk mengakses, memproduksi, dan menyebarkan konten, dan melalui hal tersebut memperoleh peluang untuk membentuk informasi, pengetahuan, dan kebudayaan. Apabila kondisi ini terealisasikan, ini akan memperkaya kebudayaan, komunikasi da demokrasi, yang dapat enjadi sangat pokok dalam peningkatan hidup bersama. Namun, dikarenakan kesetaraan akses terhadap media belum terpenuhi, mayoritas warga Indonesia mendapati bahwa akses terhadap media masih sangat menyedihkan. Kelompok LGBT pada umumnya mereka adalah konsumen. Hak mereka untuk mengakses media sangatlah terbatas. Kelompok LGBT selalu ditempatkan sebagai konsumen, hanya menikmati apa yang tersedia di kanal media tanpa memiliki pengaruh apapun untuk turut membentuk konten. Kondisi ini beresiko bagi kelompok LGBT, mengingat bahwa kelompok ini sebetulnya sangat membutuhkan akses terhadap konten dan mengandaikan akses terhadap infrastruktur, guna menyebarkan aneka kisah mereka dan mendukung gerakan ini.

LGBT di dalam Media

Media berfungsi sebagai sebuah sistem untuk peyebaran informasi dan pesan-pesan kepada masyarakat. Apa yang terjadi pada publik mengani LGBT sangat dipengaruhi oleh apa yang dianggap penting dan relevan oleh media. Namun, selama ini isu-isu LGBT masih dikemas dalam balutan sensasionalisme. Aneka persoalan mengenai pelanggaran hak LGBT jarang diperlaukan sebagai isu penting oleh media arus utama. Pelanggaran HAM semacam ini tampak kurang berarti dibanding kisah-kisah penuh sensasi seperti perampokan, korupsi, kanibalisme, pembunuhan dan mutilasi. Latar belakang ini pula yang mendasari media cenderung meliput isu-isu LGBT dalam kemasan sensasionalisme. Tanpa adanya unsur tersebut, kelompok LGBT jarang muncul di dalam media. Tidak jarang juga media menampilkan unsur-unsur yang mencemooh kelompok LGBT tersebut. Bahkan media cenderung keliru merepresentasikan komunitas LGBT. Lebih parahnya lagi, dalam beberapa kasus media memilih untuk memunculka penggambaran “yang salah” (karena merendahkan), untuk menciptakan atmosfer dramatis dan sensional dari sebuah berita.

Menjadi anggota sebuah kelompok minoritas, diberi label “tidak normal” maupun dianggap secara kejiwaan sakit, membuat kelompok LGBT menderita representasi buruk di dalam masyarakat. Representasi ini dibentuk oleh media. Penggambaran yang sedemikian ini telah mengkontruksi citra LGBT di masyarakat luas dan berakibat munculnya perlakuan tidak adil terhadap kelompok LGBT.

Citra Publik tentang LGBT: Peran Media

Media di Indonesia penuh dengan komersialisasi dan sensasionalisme. Masyarakat Indonesia pun yang merupakan penonton, sepertinya cenderung memilih program drama dibandingkan dengan berita, kecuali jika pemberitaan pun juga didramatisir. Sebagaimana ditunjukkan sebelumnya, dimana perlakuan buruk terhadap kelompok LGBT meningkat. Persoalan yang mengkhawatirkan pun muncul, di mana kelompok LGBT diberi label sakit jiwa dan rusak secara moral. Minimnya perspektif gender dan kesalahpahaman atas identitas LGBT membuat kelompok rentan ini kerap ditampilkan secara negatif. Sehingga, motif akan keuntungan dari industri media juga turut berkontribusi dalam hal ini, dan menghasilkan sensasionalisme.

Media alih-alih mengangkat isu LGBT sebagai korban diskriminasi dan kekerasan, sebagian media cetak cenderung menyebut sebagai “sakit secara seksual dan menyimpang.” Dalam banyak kasus, media menggunakan istilah-istilah yang merendahkan dalam menggambarkan komunitas LGBT. Sebagai contoh, yang sangat umum adalah istilah “banci” atau “bencong”, istilah pengganti dari transgender.

Tanggapan dari Hartoyo, salah satu anggota kelompok LGBT, Our Voice, menanggapi bahwa dari aneka liputan media sudah merendahkan dan menyajikan stereotipisasi kelompok LGBT di dalam media. Hartoyo dan rekan-rekan aktivis lain mendapati bahwa reproduksi penggambaran yang merendahkan sangat melukai mereka sebagai probadi dan telah mengancam hak mereka sebagai warga negara (Diskusi,2012)

Cara media menggambarkan homoseksualitas sangat penting karena, seperti yang dibincangkan oleh Herman dan Chomsky (1988), penggunaan kata dan penulisan berita utama (headline) sangat menentukan konstruksi cerita dan menentukan sejauh mana individu-indivdu diperlakukan sebagai seorng manusia. Detail sekecil apapun dapat mempengaruhi minat pembaca dan mengundang aneka tanggapan simpatik.

Namun ketika sensasionalisme, yang dibuat demi mencapai rating, mengambl alih substansi media kebanyakan dan melupakan kewajiban publiknya. Media tidak lagi memenuhi tanggung jawab mendidik dan memberadabkan masyarakat. Media cenderung terkesan sangat mengejar keuntungan sendiri, dengan memproduksi program yang mengandung sensasionalisme dangkal. Dengan ironisnya, menggunakan LGBT sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Kelompok-kelompok LGBT yang seharusnya memiliki ruang cukup untuk menyuarakan keprihatinan mereka, dan menciprakan sejumlah cara untuk melindungi hak mereka melalui kekuatan media. Sebaliknya, minimnya akses terhadap media akan menghapus kesempatan untuk memperkuat suara lemah LGBT dan membatasi peluang mereka untuk mengambil peran aktif dalam proses pembuatan keputusan.

 

CONTOH KASUS LGBT

Surabaya (ANTARA News) – Hampir tiada hari tanpa pemberitaan tentang Verry Idham Henryansah alias Ryan (34) yang menjadi tersangka pembunuhan 11 orang di Jombang dan Jakarta. Paling tidak, pemberitaan yang “berlebih” itu telah menguak sedikit siapa sosok Ryan dan siapa saja sosok 11 korban yang “dihabisi” di Jakarta (satu orang) dan di Jombang (10 orang). Bahkan, motif pembunuhan berantai juga sudah terkuak yakni cemburu dan materi/ekonomi. Motif cemburu terungkap dalam kasus mutilasi terhadap teman dekatnya Heri Santoso hingga tujuh potongan di Depok, lalu dibuang di Jl Kebagusan, Jakarta (12/7/2008). Sementara itu, dalam kasus pembunuhan 10 orang di belakang rumah orangtua Ryan di desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, kabupaten Jombang, Jatim, selama kurun 2006-2008 terbukti bermotif materi/ekonomi. “Motifnya memang keinginan seketika untuk menguasai barang-barang milik korban, tapi Ryan tak selalu lancar mewujudkan keinginan seketika itu,” kata Direskrim Polda Jatim Kombes Pol Rusli Nasution di Surabaya (31/7). Dalam konferensi pers bersama psikiater Polda Jatim AKBP dr Roni Subagio, Kabid Dokkes Polda Jatim Kombes Pol Rudy Herdisampurno, dan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti, ia menyatakan tiga korban Ryan sempat melawan. “Ada tiga korban yang sempat berantem dengan Ryan yaitu Vincentius Yudi Priono (Wonogiri, Jateng), Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim), dan seseorang yang disebutnya Graddy (marga Tambunan, Manado),” katanya. Menurut dia, korban umumnya dikenal Ryan, tapi mereka bertemu di berbagai tempat, kemudian diajaknya ke rumahnya di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. “Ada yang bertemu di Surabaya, ada yang di Jombang. Hanya satu yang tak dikenal yakni satu korban yang Ryan sendiri tidak hafal namanya, yakni korban yang diduga dibunuh pertama kali pada 2006,” katanya. Dalam proses pembunuhan, katanya, ada korban yang dibunuh malam hingga dinihari, tapi ada juga yang dibunuh siang hari. “Mereka umumnya mudah dirayu Ryan, karena ada rasa cinta, termasuk ada juga korban wanita yang mencintainya,” katanya. Korban Ryan di Jombang adalah Ariel Somba Sitanggang (Jakarta), Vincentius Yudhi Priono (Wonogiri, Jateng), Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim), dan Graddy (marga Tambunan, Manado, namun keluarga belum teridentifikasi). Selain itu, Agustinus alias Wawan (28), Muhammad Akhsoni alias Soni (29), Zainal Abidin alias Jeki (21), Nanik Hidayati (23) dengan anaknya Silvia Ramadani Putri (3), dan seorang lagi tak dikenal (dibunuh pertama kali pada tahun 2006). Benci ibu Masalahnya, mengapa Ryan memilih karakter sebagai pembunuh berdarah dingin? Pertanyaan itu baru saja terjawab melalui hasil pemeriksaan psikiater Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur yang dirilis pada Kamis (31/7). “Kalau tanda-tanda psikotis (gangguan jiwa yang berat) tak ada, tapi kalau psikopat (minimnya empati dan kontrol perilaku) memang ya, karena perilakunya impulsif,” kata psikiater Polda Jatim AKBP dr Roni Subagio. Menurut dia, “sense of reality” (daya realitas) tersangka sangat normal. “Artinya, tersangka membunuh dengan sadar dan paham akibatnya. Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah,” katanya. Namun, tersangka memiliki ciri-ciri kepribadian yang impulsif, sehingga dia sangat sensitif, mudah tersinggung, dan mudah marah, karena itu kepribadian tersangka sering dimanifestasikan dengan tindakan melempar, memukul, marah-marah, dan tindak kekerasan lainnya. “Saat diperiksa penyidik, tersangka juga mempunyai keinginan kelihatan nggak normal agar terbebas dari jerat hukum. Itu biasa, karena itu kami melakukan pemeriksaan kejiwaan dan ternyata tak ada gangguan kejiwaan yang berat,” katanya. Hasil pemeriksaan psikiater lainnya, tersangka juga mengalami gangguan orientasi seksual berupa homoseksualitas. “Dalam hubungan homoseksualitas itu, tersangka lebih menyukai peran sebagai perempuan, tapi kelainan seksual itu nggak ada kaitan dengan kejiwaan, karena mereka yang bukan homo juga dapat mengalami gejala kejiwaan,” katanya. Yang menarik, katanya, pemeriksaan psikiatri terhadap Ryan pada 29 Juli itu telah dicocokkan dengan kepribadian orangtuanya di Jombang yang diperiksa pada 30 Juli 2008. “Hasilnya, orangtua Ryan juga normal dari sisi kejiwaan, tapi ibunya mempunyai sifat yang mirip dengan Ryan yakni sensitif, mudah tersinggung, dan mudah marah, bahkan di dalam rumah tangga ada dominasi ibu,” katanya. Dalam dinamika kejiwaan tersangka, katanya, Ryan menjadi seperti sekarang ini akibat dia terlahir sebagai anak tunggal dari perkawinan ibunya dengan tiga laki-laki yang tak harmonis, bahkan Ryan merupakan hasil perkawinan ibunya dengan laki-laki ketiga. “Ryan merasa kurang mendapat perhatian, ada ketidakcocokkan dengan kondisi ekonomi keluarga, dan juga ada ketidakcocokkan dengan perilaku ibu. Ryan sering cekcok dengan orangtuanya, sehingga dia menjadi impulsif dan ada rasa tak suka dengan perilaku ibu,” katanya. Kesimpulan itu dibenarkan kakak tiri Ryan, Mulyo Wasis. “Sejak kecil Ryan sering mengalami kekerasan dari ibunya, sehingga usia sekitar 13 tahun mengalami tekanan kejiwaan akibat memendam benci kepada ibunya,” katanya usai pemeriksaan di Mapolres Jombang (30/7). Hingga saat ini polisi masih terus berupaya keras mengungkap fakta-fakta baru tentang pembunuhan berantai yang bukan saja menyita perhatian masyarakat Indonesia tapi juga dunia. Fakta-fakta baru itu diharapkan dapat menjelaskan lebih gamblang siapa Ryan, dan mengapa ia tega membunuh orang sedemikian banyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.antaranews.com/berita/111431/mengapa-ryan-membunuh (pada Rabu 17 Mei 2017 pukul 15:30 WIB)

https://bambangguru.wordpress.com/2012/04/19/reviev-buku-media-dan-budaya-populer-karangan-graeme-burton/ (pada Senin 15 Mei 2017 pukul 11:15 WIB)

https://dailyoftea.wordpress.com/2015/03/11/hubungan-media-dan-budaya-dalam-media-massa/ (pada Rabu 17 Mei 2017 pukul 14:30 WIB)

http://cipg.or.id/wp-content/uploads/2015/06/MEDIA-3-Media-Vulnerable-2012.pdf (pada Senin 15 Mei 2017 pukul 11:30 WIB)

media sosial

MEDIA SOSIAL

Definisi

Media sosial adalah sebuah media online, di mana para penggunanya melalui aplikasi berbasis internet dapat saling berbagi dan berpartisipasi, dan menciptakan konten berupa blog, wiki, foru, jejaring sosial, dan lain sebagainya

Perjalanan Media Sosial

Media sosial dimulai sejak tahun 1969 sejak ditemukanna internet (ARPANET) kemudian perkembangan internet terus berkembang secara pesat. Tahun 1978 ditemukanlah sebuah sistem bernama Bulletin Board System (BBS) yang ditemukan oleh Ward Christensen dan Randy Suess. BBS menghubungkan orang-orang melalui papan-papan yang tesedia dengan tema tertentu. Kemudian pada tahun 1988 muncul Internet Relay Chat (IRC) ang ditemukan oleh  Jarkko Oikarinen. IRC merupakan suatu bentuk komunikasi internet yang diciptakan untuk komunikasi interpersonal dan komunikasi pada kelompok yang disebut channel (saluran) dimana terdiri dari client dan server. Kemudian pada tahu 1994 muncul blog pertama yang dimulai oleh seseorang bernama Justin Hall yang menciptakan website pribadinya bernama Justin’s Home Page dan berubah menjadi Links fron the Underground dan menjadi awal perkembangan blog. Tahun 2001 mulai muncul Wikipedia dimana Wikipedia memperbolehkan kita secara sukarela untuk menambah atau mengurangi sebuah artikel apapun. Bagi yang ingin menambahan konten maka mereka harus membuat akun untuk menulis sebuah halaman baru di Wikipedia. Skype muncul pada tahun 2003 dimana memberian kemudahan bagi pengguna untuk mengobrol tatap muka lewat panggilan telefon. Skype ditemukan oleh wirausahawan Niklas Zennstrom dan Janus Friis. Pada tahun 2004 munculah sebuah media sosial yang menggemparkan dunia yaitu Facebook yang ditemukan oleh Mark Zuckerberg yang ia temukan sejak masa kuliahnya. Facebook memiliki banyak fitur seperti update status yang dapat dibaca oleh banyak orang, pesan dimana dapat mengirip pesan kepada pengguna facebook lainnya, chat untuk saling berbicara dengan real-time dengan pengguna facebook yang juga sedang online, photos, videos dll. Tahun 2005 muncul sosial media yang tidak kalah menggemparkannya yaitu youtube diman dalam media sosial ini kita dapat mengunggah (upload) video yang kita buat sendiri dan menonton video buatan orang lain. Youtube ditemukan oleh 3 orang yaitu Chad Hurley, Steven Chen dan Jawed Karim. Youtube sekrang sudah dapat menjadi lahan pekerjaan yang baru karena terdapat banyak youtubers dimana mereka menghasilkan uang mereka lewat video-video yang mereka unggah. Perkembangan social media terus berkembang mulai muncul banyak sosial media lain yang tidak kalah canggih seperti twitter, path , Instagram, line dan masih banyak lagi yang bersaing untuk menarik para konsumen.

Terdapat 5 karakterisitik dari social media menurut kemendag.org dimana ciri-ciri ialah sebagai berikut :

  1. Konten yang dibuat oleh pengguna dan dibagikan kepada orang lain dan tidak terbatas pada satu orang
  2. Dalam konten social media terdapat beberapa aspek seperti interaksi antara pengguna baik interpersonal dan kelompok, berbagi , kehadiran (eksis) , reputasi (status)
  3. Isi dari konten muncul tanpa adanya gatekeeper dan tidak memiliki gerbang penghambat. Dimana setiap pengguna dapat mengakat berbagai macam konten tanpa ada yang menyaring apa yang dibuatnya
  4. Isi disampaikan secara langsung dan online. Media social bersifat up to date karena menyampaian informasi yang cepat dan langsung tersebar kepada banyak pengguna
  5. Media social menjadikan pengguna aktor dan juga creator dimana mereka dapat membuat sebuah tulisan atau video yang mereka sendiri menjadi pelaku maka dari itu media sosial menjadi alat aktualisasi diri untuk menyatakan eksistensi diri.

Social media juga memiliki banyak kasus karena dengan social media kita dapat mengungkapkan apapun dengan mengunggah apapun sehingga pemerintah mengeluarkan sebuah undang undang yaitu undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Isi dalam unadang-undang ini yang memiliki kaitan terhadapa media social ialah pada bab 7 pasal 27. Yang berisi sebagai berikut :

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.

(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Pasal ini membuat pengguna sosial media di Indonesia harus berhati-hati dengan setiap tingkah laku yang ia lakukan dalam media sosial karena terdapat sanksi apabila melangga peraturan-peraturan dalam undang-undang. Salah satu kasus yang sedang hangat diperbincangkan ialah kasus Nuril dimana ia terkena jerat pada ayat satu pasal 27 untuk tindakan penyebaran muatan melanggar kesusilaan.

JENIS-JENIS MEDIA SOSIAL

Media sosial adalah teknologi berbasis web untuk komunikasi dan berbagi melalui internet. Dalam hal ini, media sosial mendefinisikan empat karakteristik yaitu user-generated content, komunitas, distribusi yang cepat, dan dialog terbuka dua arah (Hill, 2014:3). Dalam artikelnya berjudul “User of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media” di Majalah Business Horizons (2010) halaman 69-68, Andreas M. Kaplan  dan Michael Haenlein membuat klasifikasi berbagai jenis media sosial yang berdasarkan ciri-ciri penggunaannya. Menurut mereka, pada dasarnya media sosial dapat dibagi menjadi enam jenis, yaitu:

  • Pertama, proyek kolaborasi website, di mana user-nya diizinkan untuk dapat mengubah, menambah, atau pun membuang content–contentyang termuat di website tersebut, seperti Wikipedia.
  • Kedua, blogdan microblog, di mana user mendapatkan kebebasan dalam mengungkapkan suatu hal di blog tersebut, seperti perasaan, pengalaman, pernyataan, sampai kritik terhadap suatu hal, seperti Twitter.
  • Ketiga, contentatau isi, di mana para user di website ini saling membagikan content–content multimedia, seperti e-book, video, foto, gambar, dan lain-lain seperti Youtube.
  • Keempat, situs jejaring sosial, di mana usermemeroleh izin untuk terkoneksi dengan cara membuat informasi yang bersifat pribadi, kelompok atau sosial sehingga dapat terhubung atau diakses oleh orang lain, seperti misalnya Facebook.
  • Kelima, virtual game world, di mana usermelalui aplikasi 3D dapat muncul dalam wujud avatar-avatar sesuai keinginan dan kemudian berinteraksi dengan orang lain yang mengambil wujud avatar juga layaknya di dunia nyata, seperti Second Life.
  • Keenam, virtual social world, merupakan aplikasi berwujud dunia virtual yang memberi kesempatan pada penggunanya berada dan hidup di dunia virtual untuk berinteraksi dengan yang lain. Virtual social worldini tidak jauh berbeda dengan virtual game world, namun lebih bebas terkait dengan berbagai aspek kehidupan, seperti Second Life.

DAMPAK MEDIA SOSIAL

Dampak positif yang lain dari adanya situs jejaring sosial adalah percepatan penyebaran informasi. Akan tetapi ada pula dampak negatif dari medsos, yakni berkurangnya interaksi interpersonal secara langsung atau tatap muka, munculnya kecanduan yang melebihi dosis, serta persoalan etika dan hukum karena kontennya yang melanggar moral, privasi serta peraturan.

DAMPAK NEGATIF

  1. KurangnyaInteraksi dengan Dunia Luar

Kemunculan situs jejaring sosial ini menyebabkan interaksi interpersonal secara tatap muka (face-to-face) cenderung menurun. Orang lebih memilih untuk menggunakan situs jejaring sosial karena lebih praktis. Hal ini menyebabkan orang tersebut menjadi anti-sosial.

  1. MembuatKecanduan

Tidak dapat dipungkiri jika para pengguna jejaring sosial dapat menghabiskan waktunya seharian di depan komputer karena kecanduan. Sehingga membuat produktivitas menjadi menurun karena sebagian besar waktunya hanya digunakan untuk jejaring sosial.

  1. Pemborosan

Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan orang tersebut untuk mengaktifkan internet atau membayar di warnet (warung internet). Hal ini tentu saja akan merugikan bagi penggunanya sendiri karena tidak sedikit biaya yang terbuang sia-sia karena hanya sekedar menggunakan jejaring sosial.

  1. TergantikannyaKehidupan Sosial

Jejaring sosial sangat nyaman sekali digunakan. Saking nyamannya sebagian orang merasa cukup dengan berinteraksi lewat jejaring sosial saja sehingga mengurangi frekuensi tatap muka dengan orang lain. Bertatap muka tidak seharusnya digantikan dengan bertemu di dunia maya. Obrolan, tatapan mata, ekspresi muka, dan canda lewat ketawa tidak bisa tergantikan oleh rentetan kata-kata bahkan video sekalipun. Tentunya ada sebuah hal yang hilang dari interaksi seperti ini.

  1. Pornografi

Sebagaimana situs jejaring sosial lainnya, tentu ada saja yang menyalahgunakan pemanfaatan dari situs tersebut untuk kegiatan yang berbau pornografi. Bahkan ada yang memanfaatkan situs semacam ini untuk menjual wanita.

  1. Kesalahpahaman

Di jejaring sosial facebook, pernah ada kasus pemecatan seorang karyawan karena menulis yang tidak semestinya di facebook. Jejaring sosial yang dimaksud di sini adalah suatu cara yang fenomenal untuk menyebarkan informasi yang kita miliki melalui situs-situs dalam hal ini adalah facebook (Budiargo, 2015:18). Bahkan juga pernah terjadi penuntutan ke meja pengadilan karena kesalahpahaman di facebook. Jejaring sosial facebook ini merupakan jaringan sosial yang sifatnya terbuka antara user dan teman-temannya. Seperti kehidupan nyata, gosip, atau informasi miring dengan cepat juga dapat berkembang di jaringan ini. Haruslah disadari menulis di status, di wall dan komentar di berbagai aplikasi adalah sama saja seperti obrolan pada kehidupan nyata bahkan efeknya mungkin lebih parah karena bahasa tulisan terkadang menimbulkan salah tafsir.

 

Konglomerasi Media

 

  1. EKONOMI POLITIK DAN MEDIA DI INDONESIA

Indonesia memiliki beberapa dimensi dalam politik media yang terjadi.

  • menggunakan model propaganda dari Herman dan Chomsky tahun 1988 dan Bagdikian tahun 2004 untuk menganalisis dinamika industri media dan pemberntukan konten media yang akan dianalisa untuk menemukan penjelasan atas ketegangan yang terjadi antara pembangunan ranah publik dan kontestasi atas pengadilannya.
  • menggunakan gagasan dari Mansell mengenai hubungan antara kekuasaan dan media baru (Mansell dalam Nugroho, 2012) untuk menjelaskan situasi ekonomi politik saat ini dalam pembangunan industri media di Indonesia. Pengaruh terbesar dalam perubahan lanskap industri media salah satunya ialah dinamika ekonomi politik di Indonesia.
  • iset yang dianalisis banyak berputar di sekitar gagasan bahwa media adalah alat yang sangat kuat untuk membentuk opini publik. Keempat, Terjadinya reformasi pada tahun 1998 mempunyai pengaruh yang besar pada sektor media, sehingga membuatnya berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Dapat dikatakan hal tersebut terjadi karena hasil kebebasan pers dan demokratisasi yang membuat sektor pasar berkembang.

 

Perkembangan internet dan media baru turut mengubah corak sektor media di Indonesia. Hal ini dapat dilihat sebagai ‘trajectory of obsolescing’ (McLuhan, 1964) di mana medium baru meluas dengan menggeser medium sebelumnya sehungga kehadiran medium baru dapat mempengaruhi prilaku masyarakat terhadap informasi. Kemunculan teknologi media baru memunculkan bentuk baru dari demokrasi bukan hanya untuk melihat medium baru sebagai sebuah pesan baru melainkan memahami sejauh mana ia menyadari ruang bagi publik untuk mengekspresikan pemikirannya dan untuk terlibat dalam komunikasi yang demokratis. Pemahaman tentang hal ini cukup penting karena ranah publik adalah sebuah kondisi yang harus ada di dalam masyarakat demokrasi yang sehat, yang diinginkan oleh masyarakat.

 

  1. INDUSTRI MEDIA DI INDONESIA

TEORI KOMMAS: Teori Masa Klasik

TEORI PELURU

kom2

Teori peluru atau teori jarum suntik ini telah berkembang tahun 1930 hingga 1940-an, sehingga dapat dikatakan sebagai teori media massa pertama yang pernah ada. Teori ini menyatakan bahwa media memberikan rangsangan secara besar dan beragam kepada publik atau masyarakat. Rangsangan ini mempengaruhi emosi atau membangkitkan perasaan individu. Setiap individu mendapatkan dan memberikan rangsangan atau respon yang sama terhadap stimulus dari media. Karena teori ini mengasumsikan publik yang tidak berdaya ditembaki oleh stimulus media massa, yang disebut dengan “teori peluru” (bullet theory) atau model jarum hipodermis, yang mengisyaratkan pesan komunikasi seperti menyebut obat yang disuntikan dengan jarum ke bawah kulit pasien.

Teknik penyampaian pesan teori peluru ini hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan. Teori peluru ini mengasumsikan, media massa sebagai jarum raksasa yang menyuntik khayalak yang pasif, yang menganggap sebagai sekumpulan individu yang umum dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima, dengan media yang memiliki sifat yang langsung, cepat, dan memiliki efek yang kuat tehadap komunikan.

Teori ini memprediksikan dampak pesan pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang lebih universal pada semua audience. Kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif dan tak berdaya.

Kekuatan dari teori jarum suntik adalah :

  • Media memiliki peranan yang kuat dan dapat mempengaruhi afektif, kognisi dan behaviour dari audiencenya.
  • Pemerintah dalam hal ini penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi ( negara otoriter ).
  • Audience dapat lebih mudah di pengaruhi.
  • Pesanya lebih mudah dipahami.

 

Kelemahan teori jarum suntik adalah :

  • Keberadaan masyarakat yang tak lagi homogen dapat mengikis teori ini tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat.
  • Meningkatnya jumlah media massa sehingga masyarakat menentukan pilihan yang menarik bagi dirinya.
  • Adanya peran kelompok yang juga menjadi dasar audience untuk menerima pesan dari media tersebut.

 

Teori jarum suntik ini juga memiliki efek bagi masyarakat. Masyarakat awam akan mudah percaya dengan media tanpa mecaritahu kebenarannya tetapi berbeda dengan masyarakat yang aktif, dia akan mencari tahu kebenaran informasi dari media tersebut sesuai dengan kebutuhannya.

Jadi kesimpulan teori ini adalah publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah ditembakkan oleh media komunikasilayaknya kemasukan obat bius melalui jarum suntik. individu memilikikemampuan untuk menyeleksi apa saja saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.

Model Uses and gratification

Model ini tidak mengkaji apa yang dilakukan media terhadap orang, melainkan bagaimana orang memperlakukan media sehingga ia mendapat kepuasan atas kebutuhannya, seperti:

  1. kognitif, bertindak untuk mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan.
  2. pengalihan, bertindak menggunakan media untuk membawa perhatian ke tampat lain.
  3. social utility, bagaimana media menjadi alat untuk menghubungkan orang dengan orang lainnya.
  4. affiliation, memenuhi rasa memliki atau keterlibatan dengan suatu kelompok.
  5. expression, memenuhi kebutuhan mengekspresikan pikiran, perasaan, dan opini.
  6. withdrawal, menggunakan media sebagai sarana batas antara satu individu dengan individu lainnya.

Katz, Blumler, dan Gurevitch membagi beberapa asumsi, yaitu:

  1. khalayak aktif dan penggunaan media berorientasi pada tujuan.
  2. khalayak bebas menyeleksi media dan progam-program yang sesuai dengan keingingannya untuk memenuhi kebutuhannya.
  3. media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhan.
  4. memiliki kesadaran diri akan penggunaan media sehingga dapat mendapatkan gambaran yang akurat mengenai kegunaannya.
  5. penilaian mengenai isi media hanya dapat dinilai dari khalayak.

Contoh kasus:   Acara unjuk bakat yang ditayangkan di televisi memberikan hiburan bagi masyarakat, memberikan pengetahuan melalui komentar juri mengenai penampilan kontestan, dan dapat mengalihkan perhatian si audiens.

http://img.antaranews.com/new/2014/03/ori/20140307sdbt-rhjt.jpg

Teori Agenda Setting

Teori agenda setting pertama kali dikemukakan oleh Walter Lippman yang kemudian diteliti oleh McCombs dan Donald L. Teori agenda setting mengkaji upaya media untuk tidak hanya menjadi saluran isu dan peristiwa. Teori ini menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer 2 elemen yaitu kesadaran informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu yang dianggap penting oleh media massa.

Terdapat 2 asumsi dasar yang paling mendasari penelitian mengenai agenda setting:

  1. masyarakat pers dan media massa tidak mencerminkan kenyataan, mereka menyaring dan membentuk isu.
  2. konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu lain.

Teori agenda setting memiliki 3 dimensi utama, yaitu:

  1. agenda media, berpusat kepada bagaimana media massa mengarahkan informasi yang dianggap penting tertentu secara terus menerus kepada massa dan apakah masuk ke dalam headline atau tidak.
  2. agenda publik, berpusat kepada informasi yang terus menerus diterima oleh publik sehingga menjadi isuk yang hangat serta menciptakan awareness kepada publik.
  3. agenda kebijakan,bagaimana pada akhirnya suatu berita menjadi engaruh dalam kebijakan publik dan pemerintah.

TEORI KOMMAS: Teori Kritis

kom1
http://ikhti.blogspot.co.id/2013/03/kemunculan-teori-kritis-dan-budaya.html

Pada abad ke XX, filsafat dan ilmu sosial dipengaruhi oleh berbagai macam ajaran, seperti fenomenologi-eksistensialisme, Neo-Thomisme, Filsafat Analitis dan aliran Neo Marxis. Secara klasifikatif teori kritis digolongkan dalam aliran Neo Marxis. Walaupun demikian ada beberapa tokoh yang tidak setuju jika teori kritis termasuk dalam aliran Neo Marxis.

kom3.jpg
http://peacefulanarchyjournal.blogspot.co.id/2013/05/mazhab-frankfurt-dan-teori-kritis.html

Neo Marxisme merupakan pemikiran yang menolak penyempitan serta reduksi dari ajaran Karl Marx oleh Engels, yang mana ajaran ini merupakan hasil intepretasi yang dipakai oleh Lenin, yang nantinya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme. Namun, ada beberapa tokoh yang tidak setuju dengan Marxisme-Leninisme, karena menurut mereka intepretasi tersebut menghilangkan dimensi dialektika ala Karl Max. Tokoh Neo Marxisme adalah Georg Lukacs dan Karl Korsch, Ernst Bloch, Leszek Kolakowski dan Adam Schaff.

Teori kritis merupakan hasil dari pergabungan antara marxis serta cabang marxisme yang paling jauh meninggalkan Karl Max. Cara dan ciri pemikiran ini disebut sebagai cirri teori kritik masyarakat. Pada intinya teori kritis ingin mencoba memperbarui serta merekonstruksi berbagai macam teori yang yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Ciri khas dari teori ini adalah teori ini bertolak belakang dengan inspirasi pemikiran sosial milik Karl Max.

Beberapa tokoh Teori Kritis angkatan pertama adalah Max Horkheimer, Theodor Wiesengrund Adorno, Friedrich Pollock, Erich Fromm, Karl Wittfogel, Leo Lowenthal, Walter Benjamin, Herbert Marcuse (murid Heidegger yang mencoba menggabungkan fenomenologi dan marxisme, yang juga selanjutnya Marcuse menjadi “nabi” gerakan New Left di Amerika).

Sempat terjadi konfrontasi intelektual yaitu perdebatan epistemologi sosial antara Adorno dengan Karl Popper, yang berlanjut hingga antara Hans Albert dengan Jürgen Habermas. Pada intinya ciri khas dari teori kritis ini adalah bahwa teori ini berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Selain itu, pendekatan teori kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni.

Pertama kali teori kritis ini bergabung dengan komunikasi ketika teori kritis ini bermigrasi ke Amerika Serikat. Kontribusi dari teori kritisme yang diungkapkan oleh Adorno merupakan kritikan atas pendekatan milik Paul Lazarfeld yang sangat dipengaruhi oleh pendekatan struktural fungsionalistik. Selain itu riset komunikasi yang berkembang pada jaman itu bersamaan dengan asumsi pemikiran administratif adalah riset studi efek media massa. Pada era 30-40 an pemikiran teori kritis mulai mengembangkan studi tentang ekonomi politik media, analisis budaya atas teks, dan studi resepsi khalayak.

Media dalam perspektif teori kritis selalu berhubungan dengan ideologi serta hegemoni, yang mana kedua hal ini berkaitan dengan cara bagaimana sebuah wacana atau teks ditafsirkan dan dimaknai dengan suatu sudut pandang tertentu.  Menurut pendapat Golding dan Murdock (Currant & Guravitch ed., 1991:188), studi wacana media dibagi menjadi 3 yaitu, teks itu sendiri, produksi dan konsumsi teks.

Penelitian media massa pada dasarnya lebih ditekankan pada seberapa pengaruhkah pengaruh dari media massa tersebut dalam kehidupan manusia (Littlejohn, 2002: 163-183). Pada umumnya teks digunakan sebagai sarana untuk pertaruhan ideologi atau suatu kepentingan dari kalangan kelas tertentu.

Pembahasan yang seharusnya disadari adalah bukan melihat teks sebagai suatu ideologi, namun kemampuan yang ada untuk membedakan kuasa struktur makro baik yang bersifat sengaja maupun tidak sengaja (Shoemaker & Reese, 1991: 53-205).

Paradigma merupakan suatu orientasi dasar untuk sebuah riset. Kurang lebih ada 4 paradigma yang dapat diklasifikasikan dalam teori-teori ilmiah komunikasi:

  1. Paradigma Humanis Radikal
  2. Paradigma Struktural Radikal
  3. Paradigm Intepretif
  4. Paradigm Fungsionalis

 

Sedangkan menurut Guba & Lincoln (1994:17-30) juga membagi paradigma dalam teori ilmu komunikasi:

  1. Paradigma Positivistik
  2. Paradigma Pospositivistik
  3. Paradigma Kritis
  4. Paradigma Kontsruktivisme

INTERNET

mas1

SEJARAH INTERNET

Internet adalah suatu jaringan computer yang saling terhubung menggunakan suatu sistem. Internet muncul pada akhir tahun 60-an dimana Amerika Serikat yaitu United State Department of Defense (DoD) memerlukan suatu hal yang baru dalam komunikasi internetworking. Setelahnya, muncul local area networks (LANs) yang berfungsi untuk menghubungkan komputer dalam satu area dan wide area networks (WANs) yang dapat menghubungkan berbagai komputer ke berbagai wilayah dunia yang luas. Melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon.

mas2

Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

mas3

Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu pada tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.

Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

PERKEMBANGAN INTERNET DI INDONESIA

mas4

Jaringan Internet masuk ke indonesia terhadap akhir tahun 1980-an jaringan yang menghubungkan lima kampus bersama dengan layanan dial up yang disebut sebagai UniNet. kelima kampus itu adalah Universitas Indonesia, Universitas Terbuka, Institute Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, dan institute Teknologi Sepuluh November. Tetapi jaringan ini tidak berkembang karena kurangnya infrastuktur yang memadai. berikut ini adalah perkembangan internet di indonesia.

  1. Tahun 1986 – 1987 

Tulisan-tulisan awal internet di Indonesia datang dari kegiatan di amatir radio, khususnya di Amatir Radio Club (ARC) ITB yang bermodal pesat Transceiver HF SSB Kenwood TS430 dengan komputer Apple II, yang terdapat sekitar belasan anak muda ITB mempelajari paket radio pada band 40 m yang kemudian didorong ke arah TCP/IP. Para pelaku amatir radio Indonesia yang mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS), yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengaitkan banyak “server” BBS amatir radio di seluruh dunia, agar e-mail dapat tetap berjalan dengan lancar.

 

  1. Tahun 1989 – 1990 

Berawal dari mailing list pertama, yaitu indonesians@janus.berkeley.edu, diskusi-diskusi antartemen mahasiswa Indonesia di luar negeri, mengenai pemikiran alternatif beserta kesadaran masyarakat ditumbuhkan. Pola dari mailing list ini terus berkembang, terutama di host server di ITB & egroups. co. Mailing list ini akhirnya menjadi salah satu sarana yang sangat strategis dalam pembangunan komunitas internet di Indonesia.

Di awal tahun 1990 komunikasi antara Onno W, Purbo yang beradah di Kanda dengan panggilan YCIDAV/VE3 dengan rekan-rekan amatir radio di Indonesia yang dilakukan dengan melalui jaringan amatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie yang berukuran sekitar 2 meter, komunikasi dari indonesia dengan Kanada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan amatir radio.

  1. Tahun 1992- 1994 

Teknologi packet radio TCP/IP yang diadopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI dan ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet. AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang menggunakan IP pertama yang dikenal dengan domain AMPR. ORG dan IP 44.132. BPPT mengoperasikan gateway radio paket yang bekerja pada band 70 cm dengan menggunakan PC 386 dan sistem operasi DOS yang menjalankan program NOS yang digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP.

  1. Tahun 1994-1995 

Di tahun 1994-an mulai beroperasi ISP komersial pertama IndoNet. Sambungan awal untuk Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet. Ases awal di IndoNet mula-nula memakai mode teks dengan shell account, brwoser Lynx and e-mail client pine pada server AIX. Mulai 1995 beberapa BBS di Indonesia seperti Clarissa menyediakan jasa akses Telnet ke luar negeri. dengan memakai remote browser Lynx di AS, pemakai Internet di Indonesia bisa akses Internet (HTTP).

Sejak tahun 1994 Internet masuk ke Indonesia dengan Top Level Domain ID (TLD ID) primer yang dibangun di server UUNET, lalu dilanjutkan dengan domain tingkat dua (Second Level Domain). ISP (Internet Service Provicer) pertama di Indonesia adalah IPTEKnet yang terhubung ke Internet dengan kapasitas bandwidth 64 Kbps. Di Indonesia, lembaga yang dapat memperkirakan pengguna Internet adalah APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Menurut APJII pengguna Internet sampai akhir tahun 2007 ini seki

tar 17 juta.

Bandwidth adalah istilah yang menunjukkan kapasitas media dalam membawa infomasi. Bandwidth dapat digunakan dalam banyak hal, seperti telepon, jaringan kabel, bus, sinyal frekuensi radio, dan monitor. Bandwidth diukur dengan putaran per detik (cycle per second) atau hertz (HZ), tetapi dapat juga digunakan dalam ukuran bit per second (bps).

MENGAPA INTERNET DI INDONESIA “LEMOT”

 mas5

Internet adalah salah satu proyek yang sangat besar yang tentu saja membutuhkan dana yang benar. Negara-negara maju tentu saja memiliki dana yang cukup untuk membangun suatu alat pemancar guna tersambungnya jaringan internet. Indonesia menjadi Negara yang berkembang tentu menjadi hal yang sulit dalam membangun infrastruktur guna pembentukan internet. Selain faktor dana atau ekonomi, faktor geografi juga mempengaruhi dalam proses pembangunan infrastruktur dimana lingkungan di Indonesia yang masih banyak hutan segingga sulit dalam melakukan pembangunan. Jangankan internet di beberapa wilayah Indonesia yang masih terpencil saja ada wilayah yang belom terjangkau oleh listrik. Maka alasan ekomomi dan faktor geografis lah yang menjadi sumber permasalahan suatu pembanguan infrastruktur terhambat sehingga menyebabkan internet di Indonesia menjadi “lemot”.