media dan budaya serta representasinya

MEDIA DAN BUDAYA

Pengertian Media menurut Para Ahli

  1. Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2002)

Mengatakan bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut Gerlach dan Ely, media disini dapat diartikan sebagai guru, siswa, teman sebaya, lingkungan sekolah dan lingkungan luar sekolah.

  1. Menurut Association of Education andCommunication Technology (AECT)

Mengatakan bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk penyampaian pesan dan informasi.

Pengertian Media Massa

Kata “MEDIA” berlaku pada produk-produk informasi dan hiburan dari industri-industri media, begitu pula dengan contoh-contoh telekomunikasi yang membantu media dalam menyampaikan produknya kepada kita.
Konsep Kunci dalam Kajian Media

Beberapa konsep-konsep kunci dalam kajian media yakni:

  1. Ideologi
    Cara-cara berbagai aspek media berkontribusi terhadap kelangsungan berbagai kepercayaan dan nilai tanpa dipertanyakan.
  2. Bentuk
    Konstruksi yang membentuk dan mendistorsi makna-makna sosial yang dimunculkan oleh produk media
  3. Narasi
    Narasi dapat membentuk makna
  4. Teks
    Teks dapat atau tidak dapat dibaca dengan cara yang berbeda oleh para audiens yang berbeda.
  5. Genre
    Berbagai kategori repetitif yang juga dapat mengulagi berbagai mana sosial dan paraktik-praktik sosial
  6. Representasi
    Seberapa jauh representasi sebuah media tersebut negatif atau positif
  7. Audiens
    Persepsi audiens terhadap elompok sosialnya mempengaruhi preferensinya terhadap materi yang ditargetkan kepadanya.
  8. Efek
    Para audiens aktif atau pasif dalam memahami media
  9. Institusi
    Institusi jasa yang dapat mensuplai materi untuk berbagai layanan berita

Pengertian Budaya Populer

Didefinisikan oleh kepercayaan dan nilai, dan oleh pemahaman terhadap sejarah, dan terhadap keberbedaan yang semua hal tersebut dimiliki oleh kelompok sosial tertentu.

Konsep Kunci dalam Budaya Populer

  1. Pemahaman tentang perbedaan dan identitas
    Identitas dapat berada pada citra merk yang dikonstruksikan untuk suatu produk serta dalam citra kelompok yang dikonstruksi oleh penggunaan produk tersebut eleh mereka.
  2. Bagaimana identitas direpresentasikan
    Cara-cara media memberikan makna terhadap kelompok-kelompok budaya, merekonstruksi identitasnya dan mengenakan berbagai makna kepada produk-produk yang dikenakan.
  3. Bagaimana budaya diproduksi
    Dalam era produksi massa, budaya merupakan benda yang dimanufacturkan (diproduksi).
  4. Cara hubungan sosial dan hubungan budaya disamakan dengan barang-barang
    Produk-produk budaya adalah komoditas. Budaya populer penuh dengan komoditas yang di-fetisisme-kan dan terletak pada nilai dan kualitas yang dikenakan terhadap produk-produk tersebut.
  5. Bagaimana makna tentang perbudakan diproduksi dalam teks
    Para konsumen (audiens) memilih untuk mengunjungi atau tidak mengunjungi, membeli atau tidak membeli. Mereka tidak dapat memulai produksi dan persediaan, menyensor ataupun mengontrol sumber.
  6. Bagaimana ideologi beroperasi dalam praktik dan barang kebudayaan
    Pemasaran dan promosi berbagai produk kebudayaan dapat dilihat sebagai suatu promosi ideologi.

Teori Kunci dalam Budaya Populer

  1. Marxisme
    Menaruh perhatian terhadap penerapan kekuasaan melalui institusi-institusi budaya. Marxis klasik berpandangan bahwa institusi-institusi kebudayaan digunakan oleh kaum elit untuk melegitimasi kekauasaannya, sedangkan Neo Marxis berpandangan bahwa massa adalah penerima dan resipien pasif dari budaya yang diproduksi secara massal.
  2. Modernisme
    Menaruh perhatian dengan pemikiran ulang terhadap bentuk dan struktur tetapi ingin mempertahankan nilai-nilai seni tinggi yang terlepas dari budaya populer.
    Walter Benjamin (1936) mengemukakan tentang produksi citra secara kultural, kemampuan untuk mengkomunikasikan bukti dari dunia dan versi-versi dunia telah menghasilkan pengetahuan, meskipun beberapa orang mengungkapkan ketidakpahamannya
  3. Interaksionalisme
    Tertarik kepada orang-orang serta institusi , dan kepada bagaimana interaksi itu membantu memahami budaya populer. Max Weber mengungkapkan bahwa tindakan seseorang merupakan bagian dari perilaku kebudayaan yang dapat digunakan untuk memahami praktik-praktik sosial.
  4. Fungsionalisme
    Melihat media berkontribusi tehadap tendensi institusi institusi sosial untuk mencari keadilan yang seimbang (tidak selalu berkaitan dengan kekuasaan).
    Emille Durkheim mengemukakan bahwa proses-proses sosial akan bergerak untuk memperbaiki ketidakseibangan dan memulihkan tatanan melalui adaptasi dan perubahan.
  5. Strukturalisme
    Membaca struktur dan maknanya dalam perilaku budaya dan artifak.
    Claude Levi-Strauss (1963) secara khusus mendeduksi struktur-struktur oposisional dalam materi budaya, sebagaimana budaya membuat makna-makna itu juga berkaitan secara layak dengan wacana-wacana.
  6. Posmodernisme
    Menolak struktur dan mengabaikan ideologi demi teks, bentuk dan makna, semua dalam pandangan yang positif tentang kekuasaan budaya populer. David Morley (1996) menolak solusi-solusi total, teologi, serta idealisme dan utopia. Michel Foucauld berargumen bahwa semua ide dibingkai oleh wacana-wacana dan cara pikir tentang subjek yang ada, wacana terpisah dari ideologi.
  7. Feminisme
    Melihat budaya populer secara esensial berkaitan erat dengan makna tentang gender dan ketidaksetaraan. Laura Mulvey (1975) berargumen bahwa metode penceritaan (storytelling) film diorganisasikan agar memungkinkan pria untuk melihat wanita agar mendapatkan kesenangan, tetapi tidak sebaliknya.

Hubungan Media dan Budaya

Media dan budaya merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Budaya dalam hal ini dapat diartikan sebagai hasil dari media. Selain itu dalam hubungan antara media dan budaya, juga bisa diartikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sebuah kelompok yang diwariskan dari generasi yang satu ke generasi yang lain.

PENGERTIAN REPRESENTASI

Representasi menunjuk baik pada proses maupun dari produk pemaknaan suatu tanda. Representasi sendiri adalah suatu proses perubahan konsep – konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk yang kongkrit. Representasi juga mempunyai beberapa pengertian diantaranya adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia : dialog, tulisan, video, fotografi, film dan sebagainya.

Pengertian Representasi menurut Stuart Hall

Menurut Stuart Hall, proses produksi dan pertukaran makna antara manusia atau antar budaya yang menggunakan gambar, simbol dan bahasa adalah di sebut REPRESENTASI. Media paling sering digunakan dalam produksi dan pertukaran makna adalah bahasa melalui pengalaman-pengalaman yang ada dalam masyarakat. Stuart Hall (1997), dalam culture study menggambarkan bahwa bahasa melukiskan relasi encoding dan decoding melalui metafora produksi dan konsumsi. Proses produksi meliputi proses gagasan, makna, ideology dan kode social, ilmu pengetahuan, ketrampilan teknis, ideology professional, pengetahuan institusional, defenisi dan berbagai asumsi lainnya seperti moral, cultural, ekonomis, politis dan spiritual.

Pandangan Stuart Hall mengenai Representasi

Stuart Hall menganggap bahwa “ada yang salah” dengan representasi kelompok minoritas dalam media, bahkan ia meyakini bahwa imaji-imaji yang dimunculkan oleh media semakin memburuk. Hall mengamati bahwa media cenderung sensitif pada gaya hidup kelas menengah keatas, mayoritas masyrakat yang sudah teratur, sementara orang kulit hitam digambarkan sebagai “kelompok luar”, “diluar konsensus”, “relatif tidak terorganisir”, “kelas pekerja”. Lebih lanjut, media semakin mengagungkan institusi masyarakat, dimana masyarakat kulit hitam bermasalah dalam area kekuasaan sensitif itu; pekerjaan, diskriminasi publik, perumahan, legalisasi parlemen,pemerintahan lokal, hukum dan polisi.

SEKS, GENDER, DAN SEKSUALITAS

Seks

Mengacu pada jenis kelamin, bersifat biologis.

Gender

Perbedaan sifat, peran, dan posisi antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial dan dipengaruhi oleh sistem kepercayaan, agama, budaya, sosial, etnis, politik, hukum, dan lain-lain, yang bisa berubah sesuai dengan konteks waktu.

  • Bias Gender adalah pembagian posisi dan peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan.
  • Sensitif gender adalah suatu sikap yang mendukung kesetaraan gender.

Seksualitas

Aspek kehidupan yang menyeluruh mencakup seks, gender, orientasi seksual, erotisme, kesenangan, keintiman, dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan atau nilai-nilai, tingkah laku, kebiasaan, peran, dan hubungan.

 

GENDER DAN MEDIA

Wanita lebih sering menjadi alat untuk menarik konsumen dalam media. Wanita sering dihubungkan dengan sex. Contohnya adalah dalam iklan mobil yang mana laki-laki sering digambarkan piawai dalam mengemudikan mobil, sedangkan wanita sering muncul dalam pakaian yang sexy yang tergila-gila dengan laki-laki yang piawai dalam mengemudikan mobil tersebut. Namun, saat ini media mulai menyetarakan representasi wanita dan laki-laki. Contohnya sekarang laki-laki juga mulai banyak bermunculan dalam iklan bumbu dapur.

REPRESENTASI PEREMPUAN DI DALAM MEDIA

Perempuan

Jumlah penduduk Indonesia menurut sensus penduduk nasional 2010 adalah 237,6 juta jiwa di mana 49,7% di antaranya adalah perempuan. Meskipun jumlahnya hamper mencapai setengah dari jumlah keseluruhan pennduduk Indonesia, ruang perempuan sedikit karena Indonesia memiliki budaya patriarki. Masalah yang umumnya dialami kaum hawa meliputu kemiskinan, pendidikan, kekerasan dalam rumah tangga, dan stereotipisasi. Media sesungguhnya didesak untuk menyuarakan hak perempuan, namun media malah mengeksploitasi perempuan demi kepentingannya yang menyebabkan timbuk prasangka dan diskriminatif terhadap perempuan.

Perempuan dan Media

Menurut peneltian yang dilakukan di pedalaman kepulauan Serawai, dihasilkan informasi bahwa perempuan tidak cakap dalam menggunakan media. Media sendiri juga tidak mengekspos isu-isu yang menyangkut perempuan karena perempuan bukanlah aspek penting bagi peliputan media. Perempuan dirugikan akibat buruknya infrastruktur media dan menghambat status mereka sebagai warga negara.

Perempuan dalam Media

Jumlah perempuan yang bekerja dalam bidang media terbilang sedikit. Munculnya perempuan di dalam media juga bukan sebagai pemeran aktif melainkan sebagai obyek, baik itu obyek berita kriminal, korban bencana, atau bahkan hanya sebagai komoditas saja. Belakangan ini memang jumlah perempuan yang bekerja di bidang media bertambah. Namun hal ini bukan disebabkan oleh pengakuan keberadaan perempua, melainkan perempuan dipandang memiliki daya jual sehingga memudahkan pertemuan dengan narasumber.

Stereotipisasi terhadap Perempuan: Peran Media

Tanggung  jawab media dalam mendidik dan memberadabkan masyarakat tidak lagi menjadi fokus utama para awak media, tetapi sensasional dan rating menjadi fokus kebanyakan media. Media mementingkan laba melalui acara-acara yang sensasional dan perempuan dijadikan sebagai “alat” untuk mencapai tujuan sensasional ini.

Perempuan yang Lemah di dalam Media

Perempuan menjadi korban dalam media demi strategi pemasaran media yang menyebabkan hak perempuan sebagai warga negara dilanggar. Penggambaran perempuan di media mengirimkan pesan-pesan penting pada publik mengenai tempat dan peran perempuan di masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya media dalam media perempuan dalam tiap aspek. Seharusnya media tutut ambil bagian dalam upaya pemberdayaan  dan menampilkan kelompok perempuan dengan cara terhormat.

Melindungi Perempuan: Pentingnya Peran Media

Media memiliki pengaruh yang besar dalam menyampaikan pesar ke public mengenai peran dan posisi perempuan di masyarakat. Media memiliki tanggung jawab untuk membangun masyarakat dalam prinsip transparansi, keberagaman, dan solidaritas benar-benar ada. Namun, media telah mengabaikan hak perempuan di ranah publik, sehingga data dikatakan media gagal mmenuhi tanggung jawabnya yang sesungguhnya.

 

REPRESENTASI LGBT DI DALAM MEDIA

LGBT di Indonesia: Sejarah dan Latar Belakang

Gerakan LGBT di Indonesia dimulai pada awal 1980-an ketika sejumlah aktivis LGBT mulai menyuarakan eksistensi LGBT di Indonesia. Salah satu dari antaranya adalah Lambda Indonesia dan GAYa NUSANTARA. Organisasi-organisasi ini berfokus pada jejaring sosial antar-LGBT. Meskipun begitu, gerakan yang terbentuk masih individual dan belum terorganisir secara baik. Organisasi ini berkembang pada tahun 1990, seiring dengan meningkatnya keprihatinan terhadap HIV/AIDS  dan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Organisasi tersebut masih mengambil isu umum seperti kesehatan dan mitigasi HIV/AIDS, tapi masih belum sampai isu HAM. Mayoritas LGBT masih belum berpartisipasi secara aktif dalam kelompok-kelompok umum karena mereka masih hidup menutup diri dan takut untuk mengekspresikan diri.

Hal ini disebabkan, karena sebagian besar dari masyarakat yang masih enggan untuk menerima kelompok LGBT. Bisa dilihat bahwa masyarakat Indonesia memiliki dasar moral, kebudayaan dan keyakinan beragama. Tidak heran jika kelompok LGBT menjadi sasaran berbagai kelompok fundamentalis agama, karena dianggap “tidak bermoral” dan “kontradiktif bagi moral bangsa”, kelompok LGBT semakin rentan untuk menerima serangan, intimidasi, maupun penganiayaan. Dapat dikaitkan juga dengan adat ketimuran yang dianut oleh masyarkat Indonesia yang barangkali menjadi faktor perlakuan terhadap LGBT. Di lain sisi, hal ini diterima oleh masyarakat modern yang menghargai keunikan pilihan-pilihan manusia. Di sini, kita dapat melihat tegangan yang mengemuka antara yang disebut sebagai “universalitas” nilai-nilai dalam masyarakat modern dan “partikularitas” dari nilai-nilai timur. Dalam konteks Indonesia, keduanya tidak selalu sejalan.

LGBT dan Media

Sebagian orang meyakini bahwa akses terhadap media yang layak merupakan prasyarat bagi demokrasi dan pembangunan (Samassekou 2006, Jorgensen 2006, Greenstein and Esterhuysen 2006). Akses yang layak terhadap media memampukan masyarakat dalam merengkuh cara-cara tertentu untuk mengakses, memproduksi, dan menyebarkan konten, dan melalui hal tersebut memperoleh peluang untuk membentuk informasi, pengetahuan, dan kebudayaan. Apabila kondisi ini terealisasikan, ini akan memperkaya kebudayaan, komunikasi da demokrasi, yang dapat enjadi sangat pokok dalam peningkatan hidup bersama. Namun, dikarenakan kesetaraan akses terhadap media belum terpenuhi, mayoritas warga Indonesia mendapati bahwa akses terhadap media masih sangat menyedihkan. Kelompok LGBT pada umumnya mereka adalah konsumen. Hak mereka untuk mengakses media sangatlah terbatas. Kelompok LGBT selalu ditempatkan sebagai konsumen, hanya menikmati apa yang tersedia di kanal media tanpa memiliki pengaruh apapun untuk turut membentuk konten. Kondisi ini beresiko bagi kelompok LGBT, mengingat bahwa kelompok ini sebetulnya sangat membutuhkan akses terhadap konten dan mengandaikan akses terhadap infrastruktur, guna menyebarkan aneka kisah mereka dan mendukung gerakan ini.

LGBT di dalam Media

Media berfungsi sebagai sebuah sistem untuk peyebaran informasi dan pesan-pesan kepada masyarakat. Apa yang terjadi pada publik mengani LGBT sangat dipengaruhi oleh apa yang dianggap penting dan relevan oleh media. Namun, selama ini isu-isu LGBT masih dikemas dalam balutan sensasionalisme. Aneka persoalan mengenai pelanggaran hak LGBT jarang diperlaukan sebagai isu penting oleh media arus utama. Pelanggaran HAM semacam ini tampak kurang berarti dibanding kisah-kisah penuh sensasi seperti perampokan, korupsi, kanibalisme, pembunuhan dan mutilasi. Latar belakang ini pula yang mendasari media cenderung meliput isu-isu LGBT dalam kemasan sensasionalisme. Tanpa adanya unsur tersebut, kelompok LGBT jarang muncul di dalam media. Tidak jarang juga media menampilkan unsur-unsur yang mencemooh kelompok LGBT tersebut. Bahkan media cenderung keliru merepresentasikan komunitas LGBT. Lebih parahnya lagi, dalam beberapa kasus media memilih untuk memunculka penggambaran “yang salah” (karena merendahkan), untuk menciptakan atmosfer dramatis dan sensional dari sebuah berita.

Menjadi anggota sebuah kelompok minoritas, diberi label “tidak normal” maupun dianggap secara kejiwaan sakit, membuat kelompok LGBT menderita representasi buruk di dalam masyarakat. Representasi ini dibentuk oleh media. Penggambaran yang sedemikian ini telah mengkontruksi citra LGBT di masyarakat luas dan berakibat munculnya perlakuan tidak adil terhadap kelompok LGBT.

Citra Publik tentang LGBT: Peran Media

Media di Indonesia penuh dengan komersialisasi dan sensasionalisme. Masyarakat Indonesia pun yang merupakan penonton, sepertinya cenderung memilih program drama dibandingkan dengan berita, kecuali jika pemberitaan pun juga didramatisir. Sebagaimana ditunjukkan sebelumnya, dimana perlakuan buruk terhadap kelompok LGBT meningkat. Persoalan yang mengkhawatirkan pun muncul, di mana kelompok LGBT diberi label sakit jiwa dan rusak secara moral. Minimnya perspektif gender dan kesalahpahaman atas identitas LGBT membuat kelompok rentan ini kerap ditampilkan secara negatif. Sehingga, motif akan keuntungan dari industri media juga turut berkontribusi dalam hal ini, dan menghasilkan sensasionalisme.

Media alih-alih mengangkat isu LGBT sebagai korban diskriminasi dan kekerasan, sebagian media cetak cenderung menyebut sebagai “sakit secara seksual dan menyimpang.” Dalam banyak kasus, media menggunakan istilah-istilah yang merendahkan dalam menggambarkan komunitas LGBT. Sebagai contoh, yang sangat umum adalah istilah “banci” atau “bencong”, istilah pengganti dari transgender.

Tanggapan dari Hartoyo, salah satu anggota kelompok LGBT, Our Voice, menanggapi bahwa dari aneka liputan media sudah merendahkan dan menyajikan stereotipisasi kelompok LGBT di dalam media. Hartoyo dan rekan-rekan aktivis lain mendapati bahwa reproduksi penggambaran yang merendahkan sangat melukai mereka sebagai probadi dan telah mengancam hak mereka sebagai warga negara (Diskusi,2012)

Cara media menggambarkan homoseksualitas sangat penting karena, seperti yang dibincangkan oleh Herman dan Chomsky (1988), penggunaan kata dan penulisan berita utama (headline) sangat menentukan konstruksi cerita dan menentukan sejauh mana individu-indivdu diperlakukan sebagai seorng manusia. Detail sekecil apapun dapat mempengaruhi minat pembaca dan mengundang aneka tanggapan simpatik.

Namun ketika sensasionalisme, yang dibuat demi mencapai rating, mengambl alih substansi media kebanyakan dan melupakan kewajiban publiknya. Media tidak lagi memenuhi tanggung jawab mendidik dan memberadabkan masyarakat. Media cenderung terkesan sangat mengejar keuntungan sendiri, dengan memproduksi program yang mengandung sensasionalisme dangkal. Dengan ironisnya, menggunakan LGBT sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Kelompok-kelompok LGBT yang seharusnya memiliki ruang cukup untuk menyuarakan keprihatinan mereka, dan menciprakan sejumlah cara untuk melindungi hak mereka melalui kekuatan media. Sebaliknya, minimnya akses terhadap media akan menghapus kesempatan untuk memperkuat suara lemah LGBT dan membatasi peluang mereka untuk mengambil peran aktif dalam proses pembuatan keputusan.

 

CONTOH KASUS LGBT

Surabaya (ANTARA News) – Hampir tiada hari tanpa pemberitaan tentang Verry Idham Henryansah alias Ryan (34) yang menjadi tersangka pembunuhan 11 orang di Jombang dan Jakarta. Paling tidak, pemberitaan yang “berlebih” itu telah menguak sedikit siapa sosok Ryan dan siapa saja sosok 11 korban yang “dihabisi” di Jakarta (satu orang) dan di Jombang (10 orang). Bahkan, motif pembunuhan berantai juga sudah terkuak yakni cemburu dan materi/ekonomi. Motif cemburu terungkap dalam kasus mutilasi terhadap teman dekatnya Heri Santoso hingga tujuh potongan di Depok, lalu dibuang di Jl Kebagusan, Jakarta (12/7/2008). Sementara itu, dalam kasus pembunuhan 10 orang di belakang rumah orangtua Ryan di desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, kabupaten Jombang, Jatim, selama kurun 2006-2008 terbukti bermotif materi/ekonomi. “Motifnya memang keinginan seketika untuk menguasai barang-barang milik korban, tapi Ryan tak selalu lancar mewujudkan keinginan seketika itu,” kata Direskrim Polda Jatim Kombes Pol Rusli Nasution di Surabaya (31/7). Dalam konferensi pers bersama psikiater Polda Jatim AKBP dr Roni Subagio, Kabid Dokkes Polda Jatim Kombes Pol Rudy Herdisampurno, dan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti, ia menyatakan tiga korban Ryan sempat melawan. “Ada tiga korban yang sempat berantem dengan Ryan yaitu Vincentius Yudi Priono (Wonogiri, Jateng), Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim), dan seseorang yang disebutnya Graddy (marga Tambunan, Manado),” katanya. Menurut dia, korban umumnya dikenal Ryan, tapi mereka bertemu di berbagai tempat, kemudian diajaknya ke rumahnya di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. “Ada yang bertemu di Surabaya, ada yang di Jombang. Hanya satu yang tak dikenal yakni satu korban yang Ryan sendiri tidak hafal namanya, yakni korban yang diduga dibunuh pertama kali pada 2006,” katanya. Dalam proses pembunuhan, katanya, ada korban yang dibunuh malam hingga dinihari, tapi ada juga yang dibunuh siang hari. “Mereka umumnya mudah dirayu Ryan, karena ada rasa cinta, termasuk ada juga korban wanita yang mencintainya,” katanya. Korban Ryan di Jombang adalah Ariel Somba Sitanggang (Jakarta), Vincentius Yudhi Priono (Wonogiri, Jateng), Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim), dan Graddy (marga Tambunan, Manado, namun keluarga belum teridentifikasi). Selain itu, Agustinus alias Wawan (28), Muhammad Akhsoni alias Soni (29), Zainal Abidin alias Jeki (21), Nanik Hidayati (23) dengan anaknya Silvia Ramadani Putri (3), dan seorang lagi tak dikenal (dibunuh pertama kali pada tahun 2006). Benci ibu Masalahnya, mengapa Ryan memilih karakter sebagai pembunuh berdarah dingin? Pertanyaan itu baru saja terjawab melalui hasil pemeriksaan psikiater Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur yang dirilis pada Kamis (31/7). “Kalau tanda-tanda psikotis (gangguan jiwa yang berat) tak ada, tapi kalau psikopat (minimnya empati dan kontrol perilaku) memang ya, karena perilakunya impulsif,” kata psikiater Polda Jatim AKBP dr Roni Subagio. Menurut dia, “sense of reality” (daya realitas) tersangka sangat normal. “Artinya, tersangka membunuh dengan sadar dan paham akibatnya. Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah,” katanya. Namun, tersangka memiliki ciri-ciri kepribadian yang impulsif, sehingga dia sangat sensitif, mudah tersinggung, dan mudah marah, karena itu kepribadian tersangka sering dimanifestasikan dengan tindakan melempar, memukul, marah-marah, dan tindak kekerasan lainnya. “Saat diperiksa penyidik, tersangka juga mempunyai keinginan kelihatan nggak normal agar terbebas dari jerat hukum. Itu biasa, karena itu kami melakukan pemeriksaan kejiwaan dan ternyata tak ada gangguan kejiwaan yang berat,” katanya. Hasil pemeriksaan psikiater lainnya, tersangka juga mengalami gangguan orientasi seksual berupa homoseksualitas. “Dalam hubungan homoseksualitas itu, tersangka lebih menyukai peran sebagai perempuan, tapi kelainan seksual itu nggak ada kaitan dengan kejiwaan, karena mereka yang bukan homo juga dapat mengalami gejala kejiwaan,” katanya. Yang menarik, katanya, pemeriksaan psikiatri terhadap Ryan pada 29 Juli itu telah dicocokkan dengan kepribadian orangtuanya di Jombang yang diperiksa pada 30 Juli 2008. “Hasilnya, orangtua Ryan juga normal dari sisi kejiwaan, tapi ibunya mempunyai sifat yang mirip dengan Ryan yakni sensitif, mudah tersinggung, dan mudah marah, bahkan di dalam rumah tangga ada dominasi ibu,” katanya. Dalam dinamika kejiwaan tersangka, katanya, Ryan menjadi seperti sekarang ini akibat dia terlahir sebagai anak tunggal dari perkawinan ibunya dengan tiga laki-laki yang tak harmonis, bahkan Ryan merupakan hasil perkawinan ibunya dengan laki-laki ketiga. “Ryan merasa kurang mendapat perhatian, ada ketidakcocokkan dengan kondisi ekonomi keluarga, dan juga ada ketidakcocokkan dengan perilaku ibu. Ryan sering cekcok dengan orangtuanya, sehingga dia menjadi impulsif dan ada rasa tak suka dengan perilaku ibu,” katanya. Kesimpulan itu dibenarkan kakak tiri Ryan, Mulyo Wasis. “Sejak kecil Ryan sering mengalami kekerasan dari ibunya, sehingga usia sekitar 13 tahun mengalami tekanan kejiwaan akibat memendam benci kepada ibunya,” katanya usai pemeriksaan di Mapolres Jombang (30/7). Hingga saat ini polisi masih terus berupaya keras mengungkap fakta-fakta baru tentang pembunuhan berantai yang bukan saja menyita perhatian masyarakat Indonesia tapi juga dunia. Fakta-fakta baru itu diharapkan dapat menjelaskan lebih gamblang siapa Ryan, dan mengapa ia tega membunuh orang sedemikian banyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.antaranews.com/berita/111431/mengapa-ryan-membunuh (pada Rabu 17 Mei 2017 pukul 15:30 WIB)

https://bambangguru.wordpress.com/2012/04/19/reviev-buku-media-dan-budaya-populer-karangan-graeme-burton/ (pada Senin 15 Mei 2017 pukul 11:15 WIB)

https://dailyoftea.wordpress.com/2015/03/11/hubungan-media-dan-budaya-dalam-media-massa/ (pada Rabu 17 Mei 2017 pukul 14:30 WIB)

http://cipg.or.id/wp-content/uploads/2015/06/MEDIA-3-Media-Vulnerable-2012.pdf (pada Senin 15 Mei 2017 pukul 11:30 WIB)

Advertisements

3 thoughts on “media dan budaya serta representasinya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s