TEORI KOMMAS: Teori Kritis

kom1
http://ikhti.blogspot.co.id/2013/03/kemunculan-teori-kritis-dan-budaya.html

Pada abad ke XX, filsafat dan ilmu sosial dipengaruhi oleh berbagai macam ajaran, seperti fenomenologi-eksistensialisme, Neo-Thomisme, Filsafat Analitis dan aliran Neo Marxis. Secara klasifikatif teori kritis digolongkan dalam aliran Neo Marxis. Walaupun demikian ada beberapa tokoh yang tidak setuju jika teori kritis termasuk dalam aliran Neo Marxis.

kom3.jpg
http://peacefulanarchyjournal.blogspot.co.id/2013/05/mazhab-frankfurt-dan-teori-kritis.html

Neo Marxisme merupakan pemikiran yang menolak penyempitan serta reduksi dari ajaran Karl Marx oleh Engels, yang mana ajaran ini merupakan hasil intepretasi yang dipakai oleh Lenin, yang nantinya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme. Namun, ada beberapa tokoh yang tidak setuju dengan Marxisme-Leninisme, karena menurut mereka intepretasi tersebut menghilangkan dimensi dialektika ala Karl Max. Tokoh Neo Marxisme adalah Georg Lukacs dan Karl Korsch, Ernst Bloch, Leszek Kolakowski dan Adam Schaff.

Teori kritis merupakan hasil dari pergabungan antara marxis serta cabang marxisme yang paling jauh meninggalkan Karl Max. Cara dan ciri pemikiran ini disebut sebagai cirri teori kritik masyarakat. Pada intinya teori kritis ingin mencoba memperbarui serta merekonstruksi berbagai macam teori yang yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Ciri khas dari teori ini adalah teori ini bertolak belakang dengan inspirasi pemikiran sosial milik Karl Max.

Beberapa tokoh Teori Kritis angkatan pertama adalah Max Horkheimer, Theodor Wiesengrund Adorno, Friedrich Pollock, Erich Fromm, Karl Wittfogel, Leo Lowenthal, Walter Benjamin, Herbert Marcuse (murid Heidegger yang mencoba menggabungkan fenomenologi dan marxisme, yang juga selanjutnya Marcuse menjadi “nabi” gerakan New Left di Amerika).

Sempat terjadi konfrontasi intelektual yaitu perdebatan epistemologi sosial antara Adorno dengan Karl Popper, yang berlanjut hingga antara Hans Albert dengan Jürgen Habermas. Pada intinya ciri khas dari teori kritis ini adalah bahwa teori ini berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Selain itu, pendekatan teori kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni.

Pertama kali teori kritis ini bergabung dengan komunikasi ketika teori kritis ini bermigrasi ke Amerika Serikat. Kontribusi dari teori kritisme yang diungkapkan oleh Adorno merupakan kritikan atas pendekatan milik Paul Lazarfeld yang sangat dipengaruhi oleh pendekatan struktural fungsionalistik. Selain itu riset komunikasi yang berkembang pada jaman itu bersamaan dengan asumsi pemikiran administratif adalah riset studi efek media massa. Pada era 30-40 an pemikiran teori kritis mulai mengembangkan studi tentang ekonomi politik media, analisis budaya atas teks, dan studi resepsi khalayak.

Media dalam perspektif teori kritis selalu berhubungan dengan ideologi serta hegemoni, yang mana kedua hal ini berkaitan dengan cara bagaimana sebuah wacana atau teks ditafsirkan dan dimaknai dengan suatu sudut pandang tertentu.  Menurut pendapat Golding dan Murdock (Currant & Guravitch ed., 1991:188), studi wacana media dibagi menjadi 3 yaitu, teks itu sendiri, produksi dan konsumsi teks.

Penelitian media massa pada dasarnya lebih ditekankan pada seberapa pengaruhkah pengaruh dari media massa tersebut dalam kehidupan manusia (Littlejohn, 2002: 163-183). Pada umumnya teks digunakan sebagai sarana untuk pertaruhan ideologi atau suatu kepentingan dari kalangan kelas tertentu.

Pembahasan yang seharusnya disadari adalah bukan melihat teks sebagai suatu ideologi, namun kemampuan yang ada untuk membedakan kuasa struktur makro baik yang bersifat sengaja maupun tidak sengaja (Shoemaker & Reese, 1991: 53-205).

Paradigma merupakan suatu orientasi dasar untuk sebuah riset. Kurang lebih ada 4 paradigma yang dapat diklasifikasikan dalam teori-teori ilmiah komunikasi:

  1. Paradigma Humanis Radikal
  2. Paradigma Struktural Radikal
  3. Paradigm Intepretif
  4. Paradigm Fungsionalis

 

Sedangkan menurut Guba & Lincoln (1994:17-30) juga membagi paradigma dalam teori ilmu komunikasi:

  1. Paradigma Positivistik
  2. Paradigma Pospositivistik
  3. Paradigma Kritis
  4. Paradigma Kontsruktivisme
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s